BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Sejak dulu agama menjadi
sumber inspirasi utama bagi kebudayaan di Kamboja. Hampir selama dua milenium, Kamboja mengembangkan
kepercayaan Khmer yang merupakan gabungan antara kepercayaan animisme, agama
Buddha, dan agama Hindu. Kultur dari India termasuk bahasa dan kesenian dibawa
oleh orang India ke Asia Tenggara sekitar abad pertama masehi. Saat ini, budaya
di Kamboja dipromosikan dan dikelola oleh Kementerian Kebudayan dan Kesenian
Kamboja.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana sejarah terbentuknya Negara Kamboja ?
2. Bagaiman Deskripsi negara Kamboja?
3. Apa-apa saja Budaya yang ada di Negara Kamboja?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Mengetahui bagaimana negara tersebut terbentuk
2. Untuk mengetahui deskripsi negara Kamboja.
3. Mengetahui apa-apa saja yang ada di negara tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Negara Kamboja
Kamboja (Bahasa Khmer: ព្រះរាជាណាចក្រកម្ពុជា. Dibaca: Kampuchea). Kerajaan
Kamboja adalah sebuah negara di Asia Tenggara. Luas totalnya adalah 181.035 km2.
Berbatasan dengan Thailand di sebelah barat, Laos di sebelah utara, Vietnam
di sebelah timur, dan Teluk Thailand di selatan. Sungai Mekong dan Danau Tonle
Sap melintasi negara ini.
Negara ini merupakan penerus Kekaisaran Khmer
yang pernah menguasai seluruh Indo-china antara abad ke-11 dan abad ke-14.
Jumlah populasi Kamboja lebih dari 14,8 juta
jiwa. Agama resmi di Kamboja adalah Buddha dengan pemeluk sekitar 95% dari
total penduduk Kamboja. Ibukota dan kota terbesar Kamboja adalah Phnom Penh.
Bentuk negara Kamboja adalah monarki konstitusional demokratik.
Nama resmi
negara ini dalam bahasa Indonesia adalah Kerajaan Kamboja (Bahasa Inggris : Kingdom of Cambodia), merupakan
hasil terjemahan dari bahasa Khmer Preăh Réachéanachâk Kâmpŭchéa.
Sering disingkat menjadi Kampuchea (Bahasa Khmer: កម្ពុជា). Kata Kampuchea berasal dari Bahasa Sansekerta
yaitu Kambuja.
Perkembangan peradaban Kamboja terjadi pada abad 1 Masehi. Selama abad
ke-3,4 dan 5 Masehi, negara Funan dan Chenla bersatu untuk membangun daerah
Kamboja. Negara-negara ini mempunyai hubungan dekat dengan China dan India.
Kekuasaan dua negara ini runtuh ketika Kerajaan Khmer dibangun dan berkuasa
pada abad ke-9 sampai abad ke-13. Kerajaan Khmer masih bertahan hingga abad
ke-15. Ibukota Kerajaan Khmer terletak di Angkor, sebuah daerah yang dibangun
pada masa kejayaan Khmer. Angkor Wat, yang dibangun juga pada saat itu, menjadi
simbol bagi kekuasaan Khmer. Pada
tahun 1432, Khmer dikuasai oleh Kerajaan Thai. Dewan Kerajaan Khmer memindahkan
ibukota dari Angkor ke Lovek, dimana Kerajaan mendapat keuntungan besar karena
Lovek adalah bandar pelabuhan. Pertahanan Khmer di Lovek akhirnya bisa dikuasai
oleh Thai dan Vietnam, dan juga berakibat pada hilangnya sebagian besar daerah
Khmer. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1594. Selama 3 abad berikutnya, Khmer
dikuasai oleh Raja-raja dari Thai dan Vietnam secara bergilir.
Pada tahun
1863, Raja Norodom, yang dilantik oleh Thai, mencari perlindungan kepada
Perancis. Pada tahun 1867, Raja Norodom menandatangani perjanjian dengan pihak
Perancis yang isinya memberikan hak kontrol provinsi Battambang dan Siem Reap
yang menjadi bagian Thai. Akhirnya, kedua daerah ini diberikan pada Kamboja
pada tahun 1906 pada perjanjian perbatasan oleh Perancis dan Thai.
Kamboja
dijadikan daerah Protektorat oleh Perancis dari tahun 1863 sampai dengan 1953,
sebagai daerah dari Koloni Indo-china. Setelah penjajahan Jepang pada 1940-an,
akhirnya Kamboja meraih kemerdekaannya dari Perancis pada 9 November 1953.
Kamboja menjadi sebuah kerajaan konstitusional dibawah kepemimpinan Raja
Norodom Sihanouk.
Pada saat
Perang Vietnam tahun 1960-an, Kerajaan Kamboja memilih untuk netral. Hal ini
tidak dibiarkan oleh petinggi militer, yaitu Jendral Lon Nol dan Pangeran Sirik
Matak yang merupakan aliansi pro-AS untuk menyingkirkan Norodom Sihanouk dari
kekuasaannya. Dari Beijing, Norodom Sihanouk memutuskan untuk beraliansi dengan
gerombolan Khmer Merah, yang bertujuan untuk menguasai kembali tahtanya yang
direbut oleh Lon Nol. Hal inilah yang memicu perang saudara timbul di Kamboja.
Khmer Merah akhirnya menguasai daerah ini pada tahun 1975, dan mengubah format
Kerajaan menjadi sebuah Republik Demokratik Kamboja yang dipimpin oleh Pol Pot.
Mereka dengan segera memindahkan masyarakat perkotaan ke wilayah pedesaan untuk
dipekerjakan di pertanian kolektif. Pemerintah yang baru ini menginginkan hasil
pertanian yang sama dengan yang terjadi pada abad 11. Mereka menolak pengobatan
Barat yang berakibat rakyat Kamboja kelaparan dan tidak ada obat sama sekali di
Kamboja.
Pada November
1978, Vietnam menyerbu Kerajaan Kamboja untuk menghentikan genosida besar-besaran
yang terjadi di Kamboja. Akhirnya, pada tahun 1989, perdamaian mulai
digencarkan antara kedua pihak yang bertikai ini di Paris. PBB memberi mandat
untuk mengadakan gencatan senjata antara pihak Norodom Sihanouk dan Lon Nol.
Sekarang, Kamboja mulai berkembang berkat bantuan dari banyak pihak asing
setelah perang, walaupun kestabilan negara ini kembali tergoncang setelah
sebuah kudeta yang gagal terjadi pada tahun 1997.
B. Negara
Kamboja
1. Letak
Kamboja
memiliki luas 181.035 kilometer persegi. Letak astronomis Kamboja adalah
10°-15°LU, 102°-108°BT.
Letak
geografis Kamboja adalah : di sebelah Barat Thailand, di sebelah Utara Laos, di sebelah Timur Vietnam,
dan Teluk Thailand di sebelah selatan.
Kamboja
memiliki garis pantai sepanjang 443 kilometer sepanjang Teluk Thailand.
Kenampakan geografis yang menarik di Kamboja ialah adanya dataran lacustrine yang terbentuk akibat banjir di Tonle
Sap. Gunung tertinggi di Kamboja adalah Gunung Phnom Aoral yang berketinggian
sekitar 1.813.
2. Iklim di Kamboja
Iklim Kamboja
didominasi oleh monsun. Rata-rata suhu di Kamboja antara 21 sampai 35°C.
Kamboja memiliki dua musim. Musim hujan terjadi pada Mei sampai Oktober,
rata-rata suhu saat musim hujan adalah 22 °C. Musim kemarau berlangsung dari
November sampai April dan suhu rata-ratanya bisa mencapai 40 °C pada bulan
April. Bencana banjir pernah terjadi pada tahun 2001 dan kembali terjadi pada
tahun 2002.
Kamboja
memiliki banyak varietas tumbuhan dan hewan. Terdapat 212 spesies mamalia, 536
spesies burung, 240 spesies reptil, 850 spesies ikan air tawar (di area Danau
Tonle Sap), dan 435 spesies ikan air laut.
Laju
deforestasi di Kamboja adalah salah satu yang tertinggi di dunia. Pada tahun
1969, luas hutan di Kamboja meliputi lebih dari 70% dari luas total dan menurun
menjadi hanya 3,1% pada tahun 2007. Kamboja kehilangan 25.000 kilometer persegi
hutan.
4. Pembagian Administratif di Kamboja
Kamboja
dibagi menjadi 20 provinsi (khett) and 4 kota praja (krong).
Daerah Kamboja kemudian dibagi menjadi distrik (srok), komunion (khum), distrik
besar (khett), dan kepulauan(koh).
a) Kota Praja (Krong):
Phnom Penh, Sihanoukville (Kampong Som), Pailin,
dan Kep
b) Provinsi (Khett):
Banteay Meanchey, Battambang, Kampong Cham,
Kampong Chhnang, Kampong Speu, Kampong Thom, Kampot, Kandal, Koh Kong, Kratié, Mondulkiri,
Oddar Meancheay, Pursat, Preah Vihear, Prey
Veng, Ratanakiri, Siem Reap, Stung Treng, Svay Rieng dan Takéo.
c) Kepulauan (Koh):
Koh Sess, Koh Polaway, Koh Rong, Koh Thass, Koh
Treas, Koh Traolach, Koh Tral dan Koh
Tang.
Pada tahun 2011 pendapatan per kapita di Kamboja
adalah sekitar $2.470 sampai $1.040. Pendapatan per kapita di Kamboja terus
meningkat tetapi termasuk rendah dibandingkan negara lain di sekitarnya.
Masyarakat kebanyakan bergantung kepada pertanian dan beberapa sektor lainnya.
Nasi, ikan, kayu, tekstil, dan karet adalah ekspor utama Kamboja. Perekonomian
Kamboja sempat turun pada masa Republik Demokratik berkuasa. Akan tetapsi, pada
tahun 1990-an, Kamboja menunjukkan kemajuan ekonomi yang membanggakan.
Pendapatan per kapita Kamboja meningkat drastis, namun peningkatan ini
tergolong rendah bila dibandingkan dengan negara - negara lain di kawasan
ASEAN. PDB bertumbuh 5.0% pada tahun 2000 dan 6.3 % pada tahun 2001. Perlambatan
ekonomi pernah terjadi pada masa Krisis Finansial Asia 1997. Investasi asing
dan turisme turun dengan sangat drastis, kekacauan ekonomi mendorong terjadinya
kekerasan dan kerusuhan di Kamboja.
6. Pariwisata di Kamboja
Industri pariwisata adalah penghasilan terbesar kedua
di Kamboja setelah industri tekstil. Antara Januari dan Desember 2007, terdapat
sekitar 2 juta wisatawan asing, meningkat 18,5% dari tahun 2006. Kebanyakan
wisatawan (51%) mengunjungi Siem Reap dan sisanya (49%) menuju Phnom Penh dan
destinasi lainnya. Kebanyakan wisatawan datang dari Jepang, Cina, Filipina,
Amerika, Korea Selatan, dan Prancis. Suvenir yang terdapat di Kamboja antara
lain kerajinan dari keramik, sabun, rempah-rempah, ukiran kayu, kerajinan perak,
dan kerajinan dari botol yang didalamnya terdapat wine beras.
Tempat wisata yang menarik di Siem Reap
dan Phnom Penh
1. Penduduk Kamboja
Pada tahun 2010,
Kamboja memiliki 14.805.358 penduduk. 90% dari keseluruhan penduduk merupakan
penduduk Khmer yang menggunakan bahasa Khmer yang merupakan bahasa resmi
negara. Populasi di Kamboja terdiri dari banyak etnis. Kelompok minoritas
disana adalah orang VIetnam, Tionghoa, Cham, dan Khmer Loeu. Angka kelahiran
adalah 25,4 per 1.000. Pertumbuhan penduduk sekitar 1,7%, lebih tinggi dari Thailand,
Korea Selatan, dan India.
1. Agama di Kamboja
Agama
Buddha Theravada adalah agama resmi di Kamboja, dengan jumlah pemeluk sekitar
95% dari total penduduk. Terdapat 4.392 wihara di kamboja. Agama terbesar kedua
adalah Islam yang merupakan etnis Chams dan Melayu. Islam adalah agama yang
mayoritas dianut oleh kaum Cham (disebut juga Khmer Islam) dan minoritas kaum
Melayu di Kamboja. Berdasarkan data dari Po Dharma, terdapat 150.000 sampai
200.000 penduduk Muslim di Kamboja pada tahun 1975. Semuanya menganut aliran
Sunni. Mereka kebanyakan tinggal di Provinsi Kampung Cham. Terdapat 300.000
warga Muslim di negara ini. Satu persen penduduk Kamboja memeluk agama Kristen,
dengan yang terbesar adalah Kristen Katolik diikuti dengan Kristen Protestan.
Terdapat sekitar 20.000 penduduk beragama Katolik di Kamboja dan merupakan
0,15% dari seluruh penduduk Kamboja. Agama Buddha Mahayana adalah agama yang
mayoritar dipeluk oleh warga Tionghoa dan orang Vietnam di Kamboja. Agama Buddha
telah ada di Kamboja sejak abad ke-5 masehi. Buddha Theravada telah ada di
Kamboja sejak abad ke-13 masehi dan kini telah dianut oleh 90% populasi di
Kamboja. Kristen dibawa ke Kamboja oleh misionaris Katholik Roma pada tahun
1660. Pada tahun 1972, terdapat sekitar 20.000 kaum Kristiani di Kamboja,
kebanyakan dari mereka adalah Katholik Roma. Berdasarkan statistik dari
Vatikan, pada tahun 1953, anggota Gereja Katholik Roma di Kamboja berjumlah
120.000. Hal itu membuatnya menjadi agama terbesar kedua di negara ini. 50.000
diantaranya adalah orang Vietnam dan sisanya kebanyakan orang Eropa.
Berdasarkan sensus tahun 1962, terdapat 2.000 pemeluk agama Kristen Protestan
di Kamboja. Terdapat sekitar 20.000 pemeluk agama Kristen Katholik di Kamboja
dimana hanya 0,15% dari total populasi. Terdapat 100.000 orang yang menganut
aliran kepercayaan daerah. Seperti kaum Khmer Loeu yang menganut animisme.
Mereka menggunakan nasi, air, api, batu, dan lain-lain untuk melangsungkan
ritual. Kaum ini biasanya menganggap tabu beberapa objek dan praktek.
2. Pendidikan di Kamboja
Kementrian
Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kerajaan Kamboja bertugas untuk membuat
kurikulum untuk pendidikan di Kamboja.Sistem pendidikan di Kamboja sangat
terpusat. Konstitusi Kamboja memberikan pendidikan gratis selama 9 tahun.
Sensus 2008 menunjukan bahwa 77,6% penduduk adalah terpelajar (85,1% laki-laki
dan 70,9% perempuan). Secara tradisional, pendidikan di Kamboja diajarkan oleh
para bhiksu.
3. kesehatan di Kamboja
Angka
harapan hidup adalah 60 tahun untuk laki-laki dan 65 tahun untuk perempuan pada
tahun 2010 meningkat dari angka harapan hidup pada tahun 1999 yaitu 49,8 tahun
untuk laki-laki dan 46,8 tahun untuk perempuan. Pemerintah Kerajaan Kamboja
berencana untuk meningkatkan kualitas kesehatan di negaranya dengan menanggulangi
HIV/AIDS, malaria, dan wabah lainnya. Anggaran yang dikeluarkan untuk kesehatan
adalah 5,
4. Transportasi di Kamboja
Kamboja
telah memperbaiki jalan raya sehingga memenuhi standar internasional pada tahun
2006. Kebanyakan jalan utama sekarang telah dipaving. Kamboja memiliki dua
jalur kereta api dengan total panjang sekitar 612 kilometer. Jalur kereta api
tersedia untuk rute Sihanoukville sampai ke bagian selatan Kamboja, dan dari
Phnom Penh sampai Sisophon. Angka kecelakaan lalu lintas di Kamboja sangat
tinggi berdasarkan standar internasional. Pada tahun 2004, angka kecelakaan per
10.000 kendaraan adalah sepuluh kali lipat lebih tinggi dari pada angka
kecelakaan di negara maju, dan
angka kematian kecelakaan telah meningkat dua kali lipat dalam waktu tiga
tahun. Kamboja memiliki empat bandara. Bandara Internasional Phnom
Penh(Pochentong) di Phnom Penh adalah yang terbesar kedua di Kamboja. Bandara
Internasional Siem Reap-Angkor adalah bandara terbesar di Kamboja. Bandara
lainnya terdapat di Sihanoukville dan Battambang.
5. Politik di Kamboja
a) Pemerintahan di Kamboja
Politik nasional di
Kamboja mendapat tempat ketika pembuatan konstitusi nasional di tahun 1993.
Pemerintahan adalah monarki konstitusional dan dijalankan sebagai demokratik
parlementer. Sistem parlemen Kamboja adalah bikameral. Dimana dibagi menjadi
dewan rendah, majelis nasional, atau Radhsphea dan sebuah dewan tinggi, senat, atau Sénat.
123 kursi anggota majelis terpilih untuk masa jabatan 5 tahun. Senat mempunyai
61 kursi, dua diantaranya dipilih oleh raja dan dua lainnya oleh majelis nasional,
dan sisanya dipilih melalui pemilihan umum di 24 provinsi di Kamboja. Masa
jabatan senat adalah 6 tahun.
Partai Rakyat
Kamboja adalah partai utama di Kamboja. Partai ini menempati 73 kursi di
majelis nasional dan 43 kursi di senat. Oposisi Partai Sam Rainsy adalah partai
terbesar kedua di Kamboja dengan 26 kursi di majelis nasional dan 2 kursi di
senat. Kamboja merupakan salah satu negara dengan pemerintahan terkorup di
dunia.
b) Militer di Kamboja
Angkatan Darat
Kerajaan Kamboja, Angkatan Laut Kerajaan Kamboja, Angkatan Udara Kerajaan
Kamboja, dan Polisi Militer Kerajaan Kamboja merupakan bagian dari Angkatan
Bersenjata Kerajaan Kamboja, dalam komando dari Kementrian Pertahanan Kerajaan
Kamboja, dipimpin oleh Perdana Menteri Kerajaan Kamboja. Awal dari revisi
struktur komandi pada awal tahun 2000 menjadi kunci pembentukan militer
Kamboja. Pada tahun 2010, Angkatan Besenjata Kerajaan Kamboja memiliki sekitar
210.000 pasukan. Militer Kamboja menghabiskan 3% anggaran negara.Polisi Militer
Kerajaan Kamboja memiliki lebih dari 7.000 pasukan. Mereka bertugas untuk
menjaga keamanan, untuk menginvestigasi dan menanggulangi kejahatan dan
terorisme, untuk menjaga wilayah dan bangunan yang dilindungi, dan untuk
mambantu dan mengevakuasi penduduk dari bencana dan konflik.
C.
Kebudayaan Kamboja
A. Sejarah Kebudayaan Kamboja
Masa
keemasan Kamboja adalah antara abad ke-9 dan ke-14 masehi dibawah periode
kerajaan Angkor, dimana pada saat itu merupakan kerajaan yang kuat dan
sejahtera yang berhasil menguasai hampir seluruh wilayah daratan Asia Tenggara.
Namun, kerajaan Angkor runtuh akibat perebutan kekuasaan dan perang melawan
kerajaan yang berada di dekatnya seperti Siam dan Dai Viet. Banyak candi yang
dibangun pada masa itu seperti Bayon dan Angkor Wat masih ada hingga sekarang.
Candi-candi tersebut tersebar di Thailand, Kamboja, Laos, dan Vietnam yang kemegahan seni dan budaya Khmer. Seni, arsitektur, musik,
dan tarian yang ada di Kamboja sekarang telah mendapat banyak pengaruh dari
banyak kerajaan lain seperti Thailand dan Laos. Efek dari kultur Angkor masih
dapat dilihat hingga kini di beberapa negara, kultur tersebut memiliki banyak
kedekatan dengan Kamboja sekarang.
B. Contoh kebudayaan Kamboja
1. Arsitektur dan Rumah di Kamboja
Arsitek
dan pemahat Kamboja membuat candi yang terbuat dari batu. Dekorasi Khmer
terinspirasi dari agama. Dewa-dewa dari agama Hindu dan Buddha terukir pada
tembok. Candi/kuil dibuat sesuai dengan aturan arsitektur Khmer Kuno yang
terdiri dari susunan candi biasa ditambah dengan satu candi yang tampak
mencolok ditengahnya, sebuah tembok, dan sebuah parit. Motif Khmer menggunakan
banyak dewa dari mitologi Buddha dan Hindu. Contohnya seperti istana kerajaan
di Phnom Penh yang menggunakan motif garuda yang merupakan burung mitologi
dalam agama Hindu. Hanya sedikit bangunan yang tersisa sejak masa kerajaan
Khmer. Yang tersisa hanyalah bangunan religius yang terbuat dari batu seperti
candi Angkor. Dalam kebudayaan modern Kamboja, sebuah keluarga biasanya tinggal
di bangunan berbentuk petak dengan ukuran bervariasi mulai dari 4 X 6 meter
hingga 6 X 10 meter. Bangunan tersebut terbuat dari bambu. Rumah Khmer biasanya
berpanggung dengan ketinggian tiga meter diatas permukaan tanah untuk
melindungi isi rumah dari banjir. Tangganya terbuat dari kayu. Sebuah rumah
biasanya terdiri dari tiga ruangan yang dibatasi oleh bambu. Ruangan depan
dijadikan ruang tamu, ruangan kedua dijadikan kamar tidur orangtua, dan ruangan
ketiga dijadikan kamar tidur bagi putrinya yang belum menikah. Anak laki-laki
tidur dimanapun mereka mendapatkan tempat.
Anggota
keluarga bersama tetangga bergotong-royong membangun rumah, serta diadakan
suatu upacara bagi rumah yang baru selesai dibangun. Rumah bagi keluarga yang
kurang mampu biasanya hanya terdiri dari satu ruangan besar. Dapur biasanya
terletak di belakang rumah. Kamar mandi biasanya berada di sungai yang ditutupi
oleh triplek. Kandang ternak biasanya dibuat dibawah rumah. Rumah orang
Tionghoa dan Vietnam di kota maupun desa di Kamboja biasanya tidak berpanggung
dan berlantai semen atau keramik. Rumah kaum urban dan bangunan komersial
biasanya terbuat dari batu bata, beton, atau kayu.
Gambar. Rumah di Kamboja
2. Kehidupan di Kamboja
a.
Ritual Kelahiran dan Kematian di Kamboja
Kelahiran bayi adalah
saat yang membahagiakan bagi keluarga. Berdasarkan kepercayaan tradisional,
mereka (ibu dan bayi) akan dikurung karena mereka sangat rentan terhadap dunia
mistik. Seorang ibu yang meninggal saat melahirkan bayinya dipercaya akan
menjadi roh yang jahat. Dalam masyarakat Khmer tradisional, wanita hamil
dianggap tabu memakan beberapa makanan dan harus menghindari beberapa situasi.
Tradisi ini masih berlangsung di pedesaan, namun mulai berkurang di daerah
perkotaan. Kematian tidak dilihat dengan penuh kesedihan disini; tetapi dilihat
sebagai akhir dari sebuah hidup dan merupakan awal dari kehidupan selanjutnya
yang diharapkan akan lebih baik dari sebelumnya. Kaum Khmer Buddha biasanya
mengkremasi dan debunya disimpan di dalam sebuah stupa di dalam candi. Bendera
panji putih dikibarkan yang disebut “bendera buaya putih” di luar rumah, yang
menandakan ada seseorang di dalam rumah tersebut yang telah meninggal. Prosesi
pemakaman dihadiri oleh biksu Buddha, anggota keluarga, dan kerabat yang
berduka. Suami/istri dan anaknya yang ditinggalkan berduka dengan cara mencukur
kepalanya dan mengenakan pakaian putih.
b.
Masa
Kecil dan Masa Remaja di Kamboja
Anak kecil di Kamboja
dirawat sampai usia dua atau empat tahun. Sampai usia tiga atau empat tahun,
anak diberi kasih sayang dan kebebasan. Permainan anak-anak lebih menekankan
pada sosialisasi atau kemampuan ketimbang menang atau kalah.
Kebanyakan anak mulai bersekolah pada usia tujuh atau delapan. Ketika dia
mencapai usia ini, mereka harus mengetahui norma kesopanan, kepatuhan, dan
hormat kepada yang lebih tua dan kepada biarawan Buddha (biksu). Ayahnya
bertugas untuk mengontrol anaknya dan memberikan izin kepada anaknya. Saat usia
sepuluh tahun, anak perempuan membantu ibunya untuk mengerjakan beberapa
pekerjaan rumah tangga; sedangkan anak laki-laki tahu bagaimana menjaga ternak
mereka dan mampu berladang bersama laki-laki lain yang lebih tua. Para remaja
biasanya bermain dengan temannya yang sesama jenis kelamin. Selama masa
remajanya, laki-laki biasanya menjadi pelayan di Wihara dan menjadi calon
biarawan, dimana hal itu merupakan suatu kehormatan besar untuk orangtuanya.
Orangtua memiliki wewenang penuh terhadap anaknya sampai mereka menikah, dan
orangtuanya tetap mengendalikan beberapa kontrol saat pernikahan.
3. Pakaian di Kamboja
Pakaian di Kamboja
adalah salah satu aspek penting dari budaya di Kamboja. Mode orang Kamboja
berbeda-beda tergantung pada suku etnis dan status sosial. Orang Khmer secara tradisional mengenakan syal
kotak-kotak yang disebut Krama. “Krama” membedakan orang-orang
Khmer (Kamboja) dengan tetangganya seperti orang Thai, orang Vietnam, dan orang
Laos. Syal tersebut digunakan untuk beragam fungsi seperti gaya, melindungi
dari matahari, dan sebagai pelindung (untuk kaki) saat mendaki pohon, membantu
menggendong bayi, sebagai handuk, atau sebagai sarung. Krama dapat
dengan mudah diubah menjadi boneka untuk dimainkan anak-anak. Kain tradisional
yang dikenal sebagai Sampot, adalah sebuah kostum yang terkena
pengaruh dari India pada era Funan. Pakaian Khmer telah berubah seiring dengan
waktu dan agama. Pada masa transisi dari era Funan ke era Angkor, terdapat
pengaruh Hindu yang kuat pada pakaian di Kamboja dimana orang-orang
menyukai Sampot termasuk Sarong Kor (perhiasan)
yang merupakan simbol agama Hindu. Ketika agama Buddha menggantikan agama
Hindu, orang-orang Khmer mulai mengenakan blus, kemeja, dan celana. Tentunya
sesuai gaya Khmer. Orang Khmer, termasuk rakyat dan keluarga kerajaan, berhenti
memakai kerah bergaya Hindu dan mulai mengadopsi syal yang telah diberi
dekorasi. Style ini populer pada periode Udong. Perempuan Khmer biasa memilih
warna yang pas untuk Sampot-nya berdasarkan hati nurainya sendiri atau
mengikuti trend yang ada. Beberapa orang Kamboja selalu memakai pakaian bergaya
religius. Beberapa pria dan wanita Khmer mengenakan bandul Buddha pada
kalungnya. Fungsinya adalah untuk menjaga dari roh jahat dan membawa
keberuntungan. Keluarga kerajaan biasa mengenakan pakaian yang mahal. Sampot masih
digunakan dikalangan kerajaan. Kebanyakan mereka memilih Sampot
Phamuong, edisi baru dari sampot yang digunakan oleh orang Thai pada abad
ke-17.
Sejak periode Udong,
keluarga kerajaan mempertahankan kebiasaan mereka dalam berpakaian. Mereka yang
perempuan membuat pakaian yang sangat atraktif. Para wanita selalu mengenakan
penutup bahu tradisional yang disebut sbai atau rabai
kanorng. Para penari mengenakan kerah yang disebut Sarong Kor di
sekitar lehernya. Yang terpenting, mereka mengenakan gaun unik yang
disebut Samprot sara-bhap yang terbuat dari kain sutra yang
dijahit dengan menggunakan benang emas atau perak. Gaun tersebut mengkilap,
dengan desain yang rumit, dan berkelip-kelip saat penari tersebut bergerak.
Penari juga menggunakan sabuk yang diisi batu mulia. Banyak perhiasan yang
digunakan oleh penari wanita. Seperti anting-anting, sepasang gelang, hiasan
pada mata kaki.
Gambar. Sarung Hiasan (Sampot)
4. Kuliner di Kamboja
Kuliner Khmer mirip
dengan kuliner di negara-negara Asia Tenggara lainnya terutama kuliner
Thailand, Vietnam, dan Kamboja yakni menggunakan saos ikan pada sup dan
tumisan. Makanan yang terkenal pengaruh dari Tiongkok seperti chha (Bahasa
Khmer: tumisan) dan beragam jenis nasi goreng. Makanan Tiongkok yang paling
populer adalah “sup mie dengan nasi dan daging babi”, mirip dengan phở,
disebut kuy
tieu. Hidangan yang mendapat pengaruh dari
India kebanyakan menggunakan bahan kari. Banh chaew, kuliner
Vietnam Bánh xèo versi Khmer, juga merupakan hidangan yang
populer.
Kuliner Khmer terkenal
akan penggunakan pharok-nya. Pharok adalah sejenis pasta ikan yang
telah dipermentasi. Jika Pharok tidak digunakan, maka kapi dapat
digunakan. Kapi adalah sejenis pasta udang terfermentasi. Santan adalah bahan
baku dari berbagai jenis kari dan hidangan pencuci mulut Khmer. Orang Kamboja
biasanya menggunakan nasi dengan melati atau ketan. Hidangan penutup biasanya
menggunakan buah seperti durian. Hampir semua makanan dimakan bersama semangkuk
nasi. Cabai dipisahkan dari makanan supaya dapat diisi sesuai selera.
5. Seni dan Sastra di Kamboja
5.1. Seni Rupa di
Kamboja
Sejarah seni rupa di Kamboja dapat dilihat dari jaman kuno.
Seni di Kamboja mencapai puncaknya saat periode Angkor. Seni dan kerajinan
tradisional Kamboja dapat berupa tekstil, tenunan, kerajinan perak, pahatan
batu, keramik, lukisan, dan layang-layang. Pada pertengahan abad ke-20, seni
modern muncul di Kamboja. Seniman mendapat dukungan dari pemerintah dan
wisatawan.
5.2. Musik di Kamboja
beberapa alat musik
tradisional juga terlihat di dinding-dinding kuil pada masa Angkor, yang
digambarkan pada relief-relief timbul. Beberapa alat musik tradisional memiliki
kesamaan dengan alat musik Jawa, seperti “gamelan” Jawa. Beberapa ahli
mengatakan bahwa Raja Khmer terdahulu, Jayavarman II membawa pengaruh budaya Jawa kuno ke Kamboja setelah kepulangannya
dari pulau Jawa pada akhir tahun 700-an.
Musik tradisional Khmer juga tidak luput dari kekejaman rezim Khmer Merah. Sekarang ini musisi tradisional Khmer di Kamboja sangat sedikit, karena banyak dari mereka yang telah dibunuh. Namun bagaimanapun juga, para ahli musik berkebangsaan asing bersama-sama dengan musisi Kamboja yang berhasil selamat dari Khmer Merah, telah mengeksplorasi dan mencoba untuk mengembangkan musik tradisional Khmer.
Musik tradisional Khmer juga tidak luput dari kekejaman rezim Khmer Merah. Sekarang ini musisi tradisional Khmer di Kamboja sangat sedikit, karena banyak dari mereka yang telah dibunuh. Namun bagaimanapun juga, para ahli musik berkebangsaan asing bersama-sama dengan musisi Kamboja yang berhasil selamat dari Khmer Merah, telah mengeksplorasi dan mencoba untuk mengembangkan musik tradisional Khmer.
Zaman dahulu, Khmers
memainkan musik mereka untuk mengiringi para penari saat pentas atau dalam acara sosial. Hentakan musik mereka tidak
terlalu cepat dan tidak juga terlalu lambat. Para ahli mengatakan melodi mereka
cukup sederhana dan tidak menggunakan sistem notasi.
Terdapat empat musik tradisional Khmer yang biasa dimainkan, yaitu Pinpeat, Mohori, Phleng Kar (musik pernikahan Khmer) dan Phleng Arak (dipentaskan untuk menghormati leluhur mereka).
Terdapat empat musik tradisional Khmer yang biasa dimainkan, yaitu Pinpeat, Mohori, Phleng Kar (musik pernikahan Khmer) dan Phleng Arak (dipentaskan untuk menghormati leluhur mereka).
a.
Pinpeat
“Pi” mengacu pada alat
musik dari buluh ganda dan “Peat” mengacu pada alat musik perkusi. Pinpeat
biasanya dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional Khmer dan juga dalam
acara keagamaan. Saat mengiringi penari Khmer, Pinpeat merupakan cara berinteraksi
antara musisi, penari dan vokalis.
Umumnya sebuah Pinpeat terdiri dari sekitar 9 instrumen, penyanyi dan paduan suara. Sekarang, karena terbatasnya ketersediaan musisi tradisional Khmer, Pinpeat terkadang ditampilkan hanya dengan kurang dari 8 instrumen. Instrumen yang lebih sering digunakan adalah Roneat , sebuah gambang, Kong Thom yang berarti sebuah gong bulat besar, Sampho yang merupakan drum berkepala ganda yang kecil, dan Skor Thom adalah drum yang besar.
Umumnya sebuah Pinpeat terdiri dari sekitar 9 instrumen, penyanyi dan paduan suara. Sekarang, karena terbatasnya ketersediaan musisi tradisional Khmer, Pinpeat terkadang ditampilkan hanya dengan kurang dari 8 instrumen. Instrumen yang lebih sering digunakan adalah Roneat , sebuah gambang, Kong Thom yang berarti sebuah gong bulat besar, Sampho yang merupakan drum berkepala ganda yang kecil, dan Skor Thom adalah drum yang besar.
b.
Mohori
Mohori
dipentaskan di Istana Kerajaan, sama seperti Pinpeat, walaupun terkadang
dimainkan juga di desa-desa.
Walaupun instrumen musiknya cukup mirip dengan Pinpeat, instrumen utama Mohori terdiri dari dua jenis Roneat dan dua jenis Tro yang merupakan biola Khmer.
Walaupun instrumen musiknya cukup mirip dengan Pinpeat, instrumen utama Mohori terdiri dari dua jenis Roneat dan dua jenis Tro yang merupakan biola Khmer.
5.3.
Tarian di Kamboja
Tari di Kamboja dapat dibagi
menjadi tiga kategori utama: tarian klasik, tarian daerah, dan tarian tidak
resmi.
a. Tarian klasik Khmer adalah bentuk tarian Kamboja yang hanya
dipertunjukan untuk kerajaan. Tarian ini memiliki banyak elemen dari tarian
klasik Thai. Pada pertengahan abad ke-20, tarian ini dipertunjukan kepada
publik dimana ini menjadi simbol dari kebudayaan Khmer. Dan dipertunjukan saat
ada kegiatan publik, liburan, dan untuk wisatawan yang berkunjung ke Kamboja. Tarian klasik dikenal akan penggunaan tangan
dan kaki untuk mengekspresikan emosinya dimana terdapat sekitar 4.000 gerakan
berbeda pada tarian ini. Tarian ini dikenal menjadi The Royal Ballet of
Cambodia (Tari Balet Kerajaan Kamboja) setelah ditetapkan menjadi
warisan budaya UNESCO pada tahun 1960-an. Cerita Ramayana memberi pengaruh kuat
terhadap tarian klasik Khmer dilihat dari gerakan dan alur cerita. Ratusan tahun lalu, Robam (tari)
Apsara ditampilkan hanya untuk anggota Kerajaan Khmer, walaupun kemudian
tarian ini juga ditampilkan kepada publik untuk perayaan-perayaan khusus di
Kerajaan, seperti perayaan setelah menang dari perang. Akan tetapi sebuah
serangan yang dilakukan Kerajaan Siam (sekarang Thailand) pada abad ke-15
berimbas ke Robam Apsara. Serangan tersebut memaksa Kerajaan Khmer untuk
memindahkan ibu kota mereka ke Phnom Penh dan sejak itu tarian ini pun kembali
hanya dipertunjukkan secara terbatas bagi kalangan istana.
a)
Tari Apsara adalah tarian Khmer yang masih ada sejak era Angkor.
Tarian ini menarik wisatawan dan membuat budaya Khmer dikenal dunia. Tarian
Apsara dipromosikan oleh Norodom Buppha Devi dan menjadi salah satu simbol dari
Kamboja.
b) Buong Suong
Sejarawan mempercayai Buong
Suong adalah tarian Khmer yang paling kuno. Tarian dibawakan satu
kali di bawah perintah Kerajaan untuk meminta hujan pada dewa-dewa selama musim
kering dan berkah untuk rakyat Kerajaan Khmer. informasi yang tersedia
mengenai Buong Suong tidak selengkap Tari Apsara, yang bisa dipelajari dari
banyak relief timbul pada kuil Angkor. Para ahli yakin sejak Khmer Merah
menghabisi para aktor, penari, dan orang-orang yang berprofesi serupa,
informasi lengkap mengenai Buong Suong menjadi sangat sedikit.
c) Robam Trot (Tari “Troddi”)
Tarian rakyat tradisional Khmer
ini biasanya ditampilkan selama perayaan-perayanTahun Baru Kamboja. Tarian
ini diyakini oleh beberapa ahli kalau sebenarnya berasaldari bagian
barat laut Kamboja, saat dimana masyarakat Khmer belum terpengaruholeh
budaya India kuno.Robam Trot (Tari Troddi) memiliki arti membuang
ketidakberuntungan di tahun lalu dan mengharapkan kehidupan yang lebih baik
di Tahun Baru. Kadang tarian ini juga dibawakan untuk meminta hujan selama
musim kemarau. Penari biasanya terdiri dari16 orang, baik pria dan wanita.
b.
Tarian
daerah Khmer memiliki gerakan yang tidak seanggun tarian klasik Khmer. Penari
mengenakan busana yang sesuai dengan yang dia perankan seperti Chams, kepala
suku, petani, dan petani miskin. Tarian ini diiringi oleh musik yang dimainkan
oleh orkestra mahori
c.
Tarian
tidak resmi Kamboja (atau tarian sosial) ditarikan saat acara sosial.
Macam-macam tariannya termasuk Romvong, Rom Kbach, Rom Saravan, dan Lam Leav.
Beberapa dari tarian tersebut mendapat banyak pengaruh dari tarian tradisional
Laos. Tari Rom Kbach mendapat banyak pengaruh dari tarian klasik kerajaan.
Tarian lainnya yang mendapat pengaruh dari globalisasi adalah Cha-Cha, Bolero,
dan Madison.
5.4. Teater Bayangan (Wayang) di Kamboja
Pewayangan
di Kamboja biasa disebut Nang Sbek atau Lakhaon Nang Sbek. Nang Sbek mirip
degan Nang Yai di Thailand, Wayang di Malaysia dan Indonesia khususnya yang berada di
pulau Jawa dan Bali. Nang Sbek mungkin berasal dari Indonesia atau Malaysia
sejak berabad-abad yang lalu. Seni ini mulai memudar seiring perkembangan
hiburan modern. Sebelum ada film, video, dan televisi, warga Khmer sering
menikmati pertunjukan wayang ini. Terdapat tiga macam teater bayangan di
Kamboja:
1. Nang
Sbek Thom adalah seni yang
melibatkan mimik, musik sebagai pengiring
tarian, dan narasi.
2. Nang
Sbek Toch yang juga disebut
Nang Kalum dan sesekali disebut Ayang. Menggunakan wayang yang lebih kecil
dengan ruang lingkup cerita yang lebih luas.
3. Sbek
Paor menggunakan wayang yang berwarna.
5.5. Film di Kamboja
Sinema di Kamboja dimulai sejak tahun 1950-an.
Raja Norodon Sihanok sendiri merupakan “pecandu” film. Banyak film yang
ditayangkan di bioskop diseluruh negara pada tahun 1960-an. Setelah rezim Khmer
Rouge berakhir, perkembangan industri film di Kamboja melemah karena persaingan
dari video dan televisi.
5.6. Sastra di Kamboja
Tulisan
sastra pertama adalah dibuat pada masa Kerajaan Khmer. Biasanya tulisan
tersebut berisi tentang keturunan kerajaan, aturan keagamaan, penaklukan
wilayah, dan organisasi internal dalam kerajaan. Dokumen Khmer tertua adalah
terjemahan dan ulasan teks Pali Buddhist pada Tripitaka. Dokumen tersebut
ditulis oleh bhiksu pada daun palem dan tersimpan di biara. Reamker (Bahasa
Khmer: Kemashuran Rama) adalah versi Kamboja dari Ramayana, sebuah epos India
yang sangat terkenal. Reamker tersusun dalam bentuk puisi dan tahapan kisahnya
diadaptasi dari gerakan tari yang ditarikan oleh seniman Khmer. Reamker sering
diadaptasi ke dalam teater tradisional Kamboja. Kamboja kaya akan karya sastra lisan.
Terdapat banyak legenda, kisah, dan lagu yang ada sejak jaman dulu dan tidak
pernah ditulis sampai kedatangan bangsa Eropa.
Salah
satu kisah yang terkenal adalah kisah tentang Vorvong dan Sorvong (Vorvong dan
Saurivong), sebuah cerita tentang dua pangeran Khmer yang pertama kali
dijadikan dalam bentuk tulisan oleh Auguste Pavie. Warga Perancis ini mengklaim
bahwa dia mendapatkan cerita ini dari Paman Nip di Distrik Somrontong. Pada
tahun 2006, cerita Vorvong dan Sorvong diadopsikan ke dalam bentuk tarian oleh
Balet Kerajaan Kamboja. Tum Teav, yang bisa dibandingkan dengan cerita Romeo
dan Juliet, adalah cerita yang paling terkenal, berdasarkan dari puisi yang
pertama kali ditulis oleh biarawan Khmer bernama Sam. Kisah cinta tragis ini
disetting pada era Lovek. Cerita ini diceritakan diseluruh Kamboja sejak
pertengahan abad ke-19. Cerita ini telah diadopsi dalam banyak bentuk seperti
lisan, sejarah, literatur, teater, dan bahkan film. Tum Teav juga berperan
dalam pendidikan di Kamboja, contohnya adalah sebagai materi ujian bahasa Khmer
di kelas 12. Terjemahan menjadi bahasa Perancis pertama kali dilakukan oleh
Étienne Aymonier pada tahun 1880. Tum Teav populer di luar negeri ketika
penulis George Chigas menerjemahkan versi sastranya yang ditulis pada tahun
1915 oleh biarawan Buddha terhormat Preah Botumthera Som atau Patumatthera Som,
yang juga dikenal sebagai Som, salah satu penulis dalam bahasa Khmer yang
terbaik. Beberapa anggota keluarga Kerajaan Khmer yang berbakat seperti Raja
Ang Duong (1841-1860) dan Raja Thommaracha II (1629-1634) telah menghasilkan
karya sastra yang bagus. Raja Thomaracha menulis puisi untuk orang Kamboja yang
lebih muda. Raja Ang Duong dikenal dengan novelnya yang berjudul Kakey yang
terinspirasi oleh cerita Jataka tentang seorang wanita yang tidak setia. Kini,
Kakey biasanya digunakan sebagai media pendidikan untuk mengajarkan gadis Khmer
tentang pentingnya kesetiaan.
6.
Olahraga
di Kamboja
Olahraga
berkembang pesat di Kamboja sejak 30 tahun terakhir. Sepakbola dibawa ke
Kamboja oleh orang Perancis dan menjadi populer di Kamboja. Terdapat beberapa
seni bela diri seperti bokator, pradal serey (tinju khas Khmer) dan gulat
tradisional Khmer. Olahraga dari barat seperti voli, binaraga, hoki, golf, dan
baseball juga populer di Kamboja. Lomba balapan termasuk lomba boat tradisional
dan lomba balap kerbau. Phnom Pehn National Olympic Stadium adalah stadion
nasional dengan kapasitas 50.000 orang di Phnom Penh. Kamboja pertama kali
mengikuti olimpiade pada tahun 1956 dengan mengirimkan beberapa penunggang
kuda. Kamboja juga pernah menjadi tuan rumah GANEFO pada tahun 1960-an. GANEFO
adalah ajang olahraga internasional yang diciptakan Indonesia untuk memboikot
Olimpiade. Di Kamboja diadakan Festival Bonn OmTeuk, yaitu festival balap
perahu nasional yang diadakan setiap bulan November.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bentuk pemerintahan negara Kamboja adalah kerajaan.
Negara dipimpin oleh raja, sedangkan kepala pemerintahannya adalah perdana
menteri. Kamboja memiliki lima pemerintahan lokal dengan ibu kota Phnom Penh.
Kamboja merupakan wilayah protektorat Perancis sejak tahun 1863, dan pada tahun
1951 pemerintah Perancis mengangkat Sihanouk sebagai raja, yang menjadikan
negara ini berbentuk kerajaan konstitusional dengan nama resmi Kerajaan
Kamboja.
Nama resmi negara ini dalam bahasa Indonesia
adalah Kerajaan Kamboja (Bahasa Inggris : Kingdom
of Cambodia), merupakan hasil terjemahan dari bahasa Khmer Preăh
Réachéanachâk Kâmpŭchéa. Sering disingkat menjadi Kampuchea (Bahasa Khmer: កម្ពុជា). Kata Kampuchea berasal dari Bahasa Sansekerta
yaitu Kambuja.
Perkembangan peradaban Kamboja terjadi pada abad 1 Masehi. Selama abad
ke-3,4 dan 5 Masehi, negara Funan dan Chenla bersatu untuk membangun daerah
Kamboja. Negara-negara ini mempunyai hubungan dekat dengan China dan India.
Kekuasaan dua negara ini runtuh ketika Kerajaan Khmer dibangun dan berkuasa
pada abad ke-9 sampai abad ke-13. Kerajaan Khmer masih bertahan hingga abad
ke-15. Ibukota Kerajaan Khmer terletak di Angkor, sebuah daerah yang dibangun
pada masa kejayaan Khmer.
Kamboja
memiliki luas 181.035 kilometer persegi. Letak astronomis Kamboja adalah
10°-15°LU, 102°-108°BT.
Letak geografis Kamboja di sebelah Barat Thailand, di sebelah Utara Laos, di sebelah Timur
Vietnam, dan Teluk Thailand di sebelah selatan.
Kamboja memiliki garis pantai sepanjang 443
kilometer sepanjang Teluk Thailand. Kenampakan geografis yang menarik di
Kamboja ialah adanya dataran lacustrine yang terbentuk akibat banjir di Tonle
Sap. Gunung tertinggi di Kamboja adalah Gunung Phnom Aoral yang berketinggian
sekitar 1.813.
Negara Kamboja memiliki beragam kebudayaan
antara lain berupa bangunan rumah, seni dan sastra serta olahraga.
B. Saran
Makalah ini tidak membahas secara keseluruhan
mengenai KEBUDAYAAN di NEGARA KAMBOJA, atau dengan kata lain makalah ini masih banyak
kekurangan. Untuk itu saya mengajak pembaca untuk mencari sumber lain yang
sesuai dengan materi dalam makalah ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar