Senin, 18 Juli 2016

Sejarah Negara Kamboja

BAB 1
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Sejak dulu agama menjadi sumber inspirasi utama bagi kebudayaan di Kamboja. Hampir selama dua milenium, Kamboja mengembangkan kepercayaan Khmer yang merupakan gabungan antara kepercayaan animisme, agama Buddha, dan agama Hindu. Kultur dari India termasuk bahasa dan kesenian dibawa oleh orang India ke Asia Tenggara sekitar abad pertama masehi. Saat ini, budaya di Kamboja dipromosikan dan dikelola oleh Kementerian Kebudayan dan Kesenian Kamboja.



B.  Rumusan Masalah
1.  Bagaimana sejarah terbentuknya Negara  Kamboja ?
2.  Bagaiman Deskripsi negara Kamboja?
3.  Apa-apa saja Budaya yang ada di Negara Kamboja?

C.   Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.  Mengetahui bagaimana negara tersebut terbentuk
2.  Untuk mengetahui deskripsi negara Kamboja.
3.  Mengetahui apa-apa saja yang ada di negara tersebut.





BAB II
PEMBAHASAN


A.   Sejarah Negara Kamboja  
Kamboja (Bahasa Khmer: ព្រះរាជាណាចក្រកម្ពុជា. Dibaca: Kampuchea).  Kerajaan Kamboja adalah sebuah negara di Asia Tenggara.  Luas totalnya adalah 181.035 km2. Berbatasan dengan Thailand di sebelah barat, Laos di sebelah utara, Vietnam di sebelah timur, dan Teluk Thailand di selatan. Sungai Mekong dan Danau Tonle Sap melintasi negara ini.
Negara ini merupakan penerus Kekaisaran Khmer yang pernah menguasai seluruh Indo-china antara abad ke-11 dan abad ke-14.
Jumlah populasi Kamboja lebih dari 14,8 juta jiwa. Agama resmi di Kamboja adalah Buddha dengan pemeluk sekitar 95% dari total penduduk Kamboja. Ibukota dan kota terbesar Kamboja adalah Phnom Penh. Bentuk negara Kamboja adalah monarki konstitusional demokratik.
Nama resmi negara ini dalam bahasa Indonesia adalah Kerajaan Kamboja (Bahasa Inggris : Kingdom of Cambodia), merupakan hasil terjemahan dari bahasa Khmer Preăh Réachéanachâk Kâmpŭchéa. Sering disingkat menjadi Kampuchea (Bahasa Khmer: កម្ពុជា). Kata Kampuchea berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu Kambuja.  Perkembangan peradaban Kamboja terjadi pada abad 1 Masehi. Selama abad ke-3,4 dan 5 Masehi, negara Funan dan Chenla bersatu untuk membangun daerah Kamboja. Negara-negara ini mempunyai hubungan dekat dengan China dan India. Kekuasaan dua negara ini runtuh ketika Kerajaan Khmer dibangun dan berkuasa pada abad ke-9 sampai abad ke-13. Kerajaan Khmer masih bertahan hingga abad ke-15. Ibukota Kerajaan Khmer terletak di Angkor, sebuah daerah yang dibangun pada masa kejayaan Khmer. Angkor Wat, yang dibangun juga pada saat itu, menjadi simbol bagi kekuasaan Khmer.                                                                              Pada tahun 1432, Khmer dikuasai oleh Kerajaan Thai. Dewan Kerajaan Khmer memindahkan ibukota dari Angkor ke Lovek, dimana Kerajaan mendapat keuntungan besar karena Lovek adalah bandar pelabuhan. Pertahanan Khmer di Lovek akhirnya bisa dikuasai oleh Thai dan Vietnam, dan juga berakibat pada hilangnya sebagian besar daerah Khmer. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1594. Selama 3 abad berikutnya, Khmer dikuasai oleh Raja-raja dari Thai dan Vietnam secara bergilir.
Pada tahun 1863, Raja Norodom, yang dilantik oleh Thai, mencari perlindungan kepada Perancis. Pada tahun 1867, Raja Norodom menandatangani perjanjian dengan pihak Perancis yang isinya memberikan hak kontrol provinsi Battambang dan Siem Reap yang menjadi bagian Thai. Akhirnya, kedua daerah ini diberikan pada Kamboja pada tahun 1906 pada perjanjian perbatasan oleh Perancis dan Thai.
Kamboja dijadikan daerah Protektorat oleh Perancis dari tahun 1863 sampai dengan 1953, sebagai daerah dari Koloni Indo-china. Setelah penjajahan Jepang pada 1940-an, akhirnya Kamboja meraih kemerdekaannya dari Perancis pada 9 November 1953. Kamboja menjadi sebuah kerajaan konstitusional dibawah kepemimpinan Raja Norodom Sihanouk.
Pada saat Perang Vietnam tahun 1960-an, Kerajaan Kamboja memilih untuk netral. Hal ini tidak dibiarkan oleh petinggi militer, yaitu Jendral Lon Nol dan Pangeran Sirik Matak yang merupakan aliansi pro-AS untuk menyingkirkan Norodom Sihanouk dari kekuasaannya. Dari Beijing, Norodom Sihanouk memutuskan untuk beraliansi dengan gerombolan Khmer Merah, yang bertujuan untuk menguasai kembali tahtanya yang direbut oleh Lon Nol. Hal inilah yang memicu perang saudara timbul di Kamboja. Khmer Merah akhirnya menguasai daerah ini pada tahun 1975, dan mengubah format Kerajaan menjadi sebuah Republik Demokratik Kamboja yang dipimpin oleh Pol Pot. Mereka dengan segera memindahkan masyarakat perkotaan ke wilayah pedesaan untuk dipekerjakan di pertanian kolektif. Pemerintah yang baru ini menginginkan hasil pertanian yang sama dengan yang terjadi pada abad 11. Mereka menolak pengobatan Barat yang berakibat rakyat Kamboja kelaparan dan tidak ada obat sama sekali di Kamboja.
Pada November 1978, Vietnam menyerbu Kerajaan Kamboja untuk menghentikan genosida besar-besaran yang terjadi di Kamboja. Akhirnya, pada tahun 1989, perdamaian mulai digencarkan antara kedua pihak yang bertikai ini di Paris. PBB memberi mandat untuk mengadakan gencatan senjata antara pihak Norodom Sihanouk dan Lon Nol. Sekarang, Kamboja mulai berkembang berkat bantuan dari banyak pihak asing setelah perang, walaupun kestabilan negara ini kembali tergoncang setelah sebuah kudeta yang gagal terjadi pada tahun 1997.

B.  Negara Kamboja


1.  Letak
Kamboja memiliki luas 181.035 kilometer persegi. Letak astronomis Kamboja adalah 10°-15°LU, 102°-108°BT.
Letak geografis Kamboja adalah : di sebelah Barat Thailand, di sebelah Utara Laos, di sebelah Timur Vietnam, dan Teluk Thailand di sebelah selatan.
Kamboja memiliki garis pantai sepanjang 443 kilometer sepanjang Teluk Thailand. Kenampakan geografis yang menarik di Kamboja ialah adanya dataran lacustrine yang terbentuk akibat banjir di Tonle Sap. Gunung tertinggi di Kamboja adalah Gunung Phnom Aoral yang berketinggian sekitar 1.813.
2.  Iklim di Kamboja
Iklim Kamboja didominasi oleh monsun. Rata-rata suhu di Kamboja antara 21 sampai 35°C. Kamboja memiliki dua musim. Musim hujan terjadi pada Mei sampai Oktober, rata-rata suhu saat musim hujan adalah 22 °C. Musim kemarau berlangsung dari November sampai April dan suhu rata-ratanya bisa mencapai 40 °C pada bulan April. Bencana banjir pernah terjadi pada tahun 2001 dan kembali terjadi pada tahun 2002.
3.  Keanekaragaman Hayati di Kamboja
Kamboja memiliki banyak varietas tumbuhan dan hewan. Terdapat 212 spesies mamalia, 536 spesies burung, 240 spesies reptil, 850 spesies ikan air tawar (di area Danau Tonle Sap), dan 435 spesies ikan air laut.
Laju deforestasi di Kamboja adalah salah satu yang tertinggi di dunia. Pada tahun 1969, luas hutan di Kamboja meliputi lebih dari 70% dari luas total dan menurun menjadi hanya 3,1% pada tahun 2007. Kamboja kehilangan 25.000 kilometer persegi hutan.
4.  Pembagian Administratif di Kamboja
Kamboja dibagi menjadi 20 provinsi (khett) and 4 kota praja (krong). Daerah Kamboja kemudian dibagi menjadi distrik (srok), komunion (khum), distrik besar (khett), dan kepulauan(koh).
a)   Kota Praja (Krong):
Phnom Penh, Sihanoukville (Kampong Som), Pailin, dan Kep
b)   Provinsi (Khett):
Banteay Meanchey, Battambang, Kampong Cham, Kampong Chhnang, Kampong Speu, Kampong Thom, Kampot, Kandal, Koh Kong, Kratié, Mondulkiri, Oddar Meancheay, Pursat,  Preah Vihear, Prey Veng, Ratanakiri, Siem Reap, Stung Treng, Svay Rieng dan Takéo.
c)   Kepulauan (Koh):
Koh Sess, Koh Polaway, Koh Rong, Koh Thass, Koh Treas, Koh  Traolach, Koh Tral dan Koh Tang.

5.  Ekonomi Kamboja
Pada tahun 2011 pendapatan per kapita di Kamboja adalah sekitar $2.470 sampai $1.040. Pendapatan per kapita di Kamboja terus meningkat tetapi termasuk rendah dibandingkan negara lain di sekitarnya. Masyarakat kebanyakan bergantung kepada pertanian dan beberapa sektor lainnya. Nasi, ikan, kayu, tekstil, dan karet adalah ekspor utama Kamboja. Perekonomian Kamboja sempat turun pada masa Republik Demokratik berkuasa. Akan tetapsi, pada tahun 1990-an, Kamboja menunjukkan kemajuan ekonomi yang membanggakan. Pendapatan per kapita Kamboja meningkat drastis, namun peningkatan ini tergolong rendah bila dibandingkan dengan negara - negara lain di kawasan ASEAN. PDB bertumbuh 5.0% pada tahun 2000 dan 6.3 % pada tahun 2001. Perlambatan ekonomi pernah terjadi pada masa Krisis Finansial Asia 1997. Investasi asing dan turisme turun dengan sangat drastis, kekacauan ekonomi mendorong terjadinya kekerasan dan kerusuhan di Kamboja.
6.  Pariwisata di Kamboja
Industri  pariwisata adalah penghasilan terbesar kedua di Kamboja setelah industri tekstil. Antara Januari dan Desember 2007, terdapat sekitar 2 juta wisatawan asing, meningkat 18,5% dari tahun 2006. Kebanyakan wisatawan (51%) mengunjungi Siem Reap dan sisanya (49%) menuju Phnom Penh dan destinasi lainnya. Kebanyakan wisatawan datang dari Jepang, Cina, Filipina, Amerika, Korea Selatan, dan Prancis. Suvenir yang terdapat di Kamboja antara lain kerajinan dari keramik, sabun, rempah-rempah, ukiran kayu, kerajinan perak, dan kerajinan dari botol yang didalamnya terdapat wine beras.
Tempat wisata yang menarik di Siem Reap dan Phnom Penh
     

1.  Penduduk Kamboja

Pada tahun 2010, Kamboja memiliki 14.805.358 penduduk. 90% dari keseluruhan penduduk merupakan penduduk Khmer yang menggunakan bahasa Khmer yang merupakan bahasa resmi negara. Populasi di Kamboja terdiri dari banyak etnis. Kelompok minoritas disana adalah orang VIetnam, Tionghoa, Cham, dan Khmer Loeu. Angka kelahiran adalah 25,4 per 1.000. Pertumbuhan penduduk sekitar 1,7%, lebih tinggi dari Thailand, Korea Selatan, dan India.
1.  Agama di Kamboja
Agama Buddha Theravada adalah agama resmi di Kamboja, dengan jumlah pemeluk sekitar 95% dari total penduduk. Terdapat 4.392 wihara di kamboja. Agama terbesar kedua adalah Islam yang merupakan etnis Chams dan Melayu. Islam adalah agama yang mayoritas dianut oleh kaum Cham (disebut juga Khmer Islam) dan minoritas kaum Melayu di Kamboja. Berdasarkan data dari Po Dharma, terdapat 150.000 sampai 200.000 penduduk Muslim di Kamboja pada tahun 1975. Semuanya menganut aliran Sunni. Mereka kebanyakan tinggal di Provinsi Kampung Cham. Terdapat 300.000 warga Muslim di negara ini. Satu persen penduduk Kamboja memeluk agama Kristen, dengan yang terbesar adalah Kristen Katolik diikuti dengan Kristen Protestan. Terdapat sekitar 20.000 penduduk beragama Katolik di Kamboja dan merupakan 0,15% dari seluruh penduduk Kamboja. Agama Buddha Mahayana adalah agama yang mayoritar dipeluk oleh warga Tionghoa dan orang Vietnam di Kamboja. Agama Buddha telah ada di Kamboja sejak abad ke-5 masehi. Buddha Theravada telah ada di Kamboja sejak abad ke-13 masehi dan kini telah dianut oleh 90% populasi di Kamboja. Kristen dibawa ke Kamboja oleh misionaris Katholik Roma pada tahun 1660. Pada tahun 1972, terdapat sekitar 20.000 kaum Kristiani di Kamboja, kebanyakan dari mereka adalah Katholik Roma. Berdasarkan statistik dari Vatikan, pada tahun 1953, anggota Gereja Katholik Roma di Kamboja berjumlah 120.000. Hal itu membuatnya menjadi agama terbesar kedua di negara ini. 50.000 diantaranya adalah orang Vietnam dan sisanya kebanyakan orang Eropa. Berdasarkan sensus tahun 1962, terdapat 2.000 pemeluk agama Kristen Protestan di Kamboja. Terdapat sekitar 20.000 pemeluk agama Kristen Katholik di Kamboja dimana hanya 0,15% dari total populasi. Terdapat 100.000 orang yang menganut aliran kepercayaan daerah. Seperti kaum Khmer Loeu yang menganut animisme. Mereka menggunakan nasi, air, api, batu, dan lain-lain untuk melangsungkan ritual. Kaum ini biasanya menganggap tabu beberapa objek dan praktek.
2.  Pendidikan di Kamboja
Kementrian Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kerajaan Kamboja bertugas untuk membuat kurikulum untuk pendidikan di Kamboja.Sistem pendidikan di Kamboja sangat terpusat. Konstitusi Kamboja memberikan pendidikan gratis selama 9 tahun. Sensus 2008 menunjukan bahwa 77,6% penduduk adalah terpelajar (85,1% laki-laki dan 70,9% perempuan). Secara tradisional, pendidikan di Kamboja diajarkan oleh para bhiksu.
3.  kesehatan di Kamboja
Angka harapan hidup adalah 60 tahun untuk laki-laki dan 65 tahun untuk perempuan pada tahun 2010 meningkat dari angka harapan hidup pada tahun 1999 yaitu 49,8 tahun untuk laki-laki dan 46,8 tahun untuk perempuan. Pemerintah Kerajaan Kamboja berencana untuk meningkatkan kualitas kesehatan di negaranya dengan menanggulangi HIV/AIDS, malaria, dan wabah lainnya. Anggaran yang dikeluarkan untuk kesehatan adalah 5,
4.  Transportasi di Kamboja
Kamboja telah memperbaiki jalan raya sehingga memenuhi standar internasional pada tahun 2006. Kebanyakan jalan utama sekarang telah dipaving. Kamboja memiliki dua jalur kereta api dengan total panjang sekitar 612 kilometer. Jalur kereta api tersedia untuk rute Sihanoukville sampai ke bagian selatan Kamboja, dan dari Phnom Penh sampai Sisophon. Angka kecelakaan lalu lintas di Kamboja sangat tinggi berdasarkan standar internasional. Pada tahun 2004, angka kecelakaan per 10.000 kendaraan adalah sepuluh kali lipat lebih tinggi dari pada angka kecelakaan di negara maju, dan angka kematian kecelakaan telah meningkat dua kali lipat dalam waktu tiga tahun. Kamboja memiliki empat bandara. Bandara Internasional Phnom Penh(Pochentong) di Phnom Penh adalah yang terbesar kedua di Kamboja. Bandara Internasional Siem Reap-Angkor adalah bandara terbesar di Kamboja. Bandara lainnya terdapat di Sihanoukville dan Battambang.
5.  Politik di Kamboja
a)   Pemerintahan di Kamboja
Politik nasional di Kamboja mendapat tempat ketika pembuatan konstitusi nasional di tahun 1993. Pemerintahan adalah monarki konstitusional dan dijalankan sebagai demokratik parlementer. Sistem parlemen Kamboja adalah bikameral. Dimana dibagi menjadi dewan rendah, majelis nasional, atau Radhsphea dan sebuah dewan tinggi, senat, atau Sénat. 123 kursi anggota majelis terpilih untuk masa jabatan 5 tahun. Senat mempunyai 61 kursi, dua diantaranya dipilih oleh raja dan dua lainnya oleh majelis nasional, dan sisanya dipilih melalui pemilihan umum di 24 provinsi di Kamboja. Masa jabatan senat adalah 6 tahun.
Partai Rakyat Kamboja adalah partai utama di Kamboja. Partai ini menempati 73 kursi di majelis nasional dan 43 kursi di senat. Oposisi Partai Sam Rainsy adalah partai terbesar kedua di Kamboja dengan 26 kursi di majelis nasional dan 2 kursi di senat. Kamboja merupakan salah satu negara dengan pemerintahan terkorup di dunia.
b)   Militer di Kamboja
Angkatan Darat Kerajaan Kamboja, Angkatan Laut Kerajaan Kamboja, Angkatan Udara Kerajaan Kamboja, dan Polisi Militer Kerajaan Kamboja merupakan bagian dari Angkatan Bersenjata Kerajaan Kamboja, dalam komando dari Kementrian Pertahanan Kerajaan Kamboja, dipimpin oleh Perdana Menteri Kerajaan Kamboja. Awal dari revisi struktur komandi pada awal tahun 2000 menjadi kunci pembentukan militer Kamboja. Pada tahun 2010, Angkatan Besenjata Kerajaan Kamboja memiliki sekitar 210.000 pasukan. Militer Kamboja menghabiskan 3% anggaran negara.Polisi Militer Kerajaan Kamboja memiliki lebih dari 7.000 pasukan. Mereka bertugas untuk menjaga keamanan, untuk menginvestigasi dan menanggulangi kejahatan dan terorisme, untuk menjaga wilayah dan bangunan yang dilindungi, dan untuk mambantu dan mengevakuasi penduduk dari bencana dan konflik.

C.  Kebudayaan Kamboja
A.  Sejarah Kebudayaan Kamboja
Masa keemasan Kamboja adalah antara abad ke-9 dan ke-14 masehi dibawah periode kerajaan Angkor, dimana pada saat itu merupakan kerajaan yang kuat dan sejahtera yang berhasil menguasai hampir seluruh wilayah daratan Asia Tenggara. Namun, kerajaan Angkor runtuh akibat perebutan kekuasaan dan perang melawan kerajaan yang berada di dekatnya seperti Siam dan Dai Viet. Banyak candi yang dibangun pada masa itu seperti Bayon dan Angkor Wat masih ada hingga sekarang. Candi-candi tersebut tersebar di Thailand, Kamboja, Laos, dan Vietnam yang kemegahan seni dan budaya Khmer. Seni, arsitektur, musik, dan tarian yang ada di Kamboja sekarang telah mendapat banyak pengaruh dari banyak kerajaan lain seperti Thailand dan Laos. Efek dari kultur Angkor masih dapat dilihat hingga kini di beberapa negara, kultur tersebut memiliki banyak kedekatan dengan Kamboja sekarang.
B.  Contoh kebudayaan Kamboja
1.  Arsitektur dan Rumah di Kamboja
Arsitek dan pemahat Kamboja membuat candi yang terbuat dari batu. Dekorasi Khmer terinspirasi dari agama. Dewa-dewa dari agama Hindu dan Buddha terukir pada tembok. Candi/kuil dibuat sesuai dengan aturan arsitektur Khmer Kuno yang terdiri dari susunan candi biasa ditambah dengan satu candi yang tampak mencolok ditengahnya, sebuah tembok, dan sebuah parit. Motif Khmer menggunakan banyak dewa dari mitologi Buddha dan Hindu. Contohnya seperti istana kerajaan di Phnom Penh yang menggunakan motif garuda yang merupakan burung mitologi dalam agama Hindu. Hanya sedikit bangunan yang tersisa sejak masa kerajaan Khmer. Yang tersisa hanyalah bangunan religius yang terbuat dari batu seperti candi Angkor. Dalam kebudayaan modern Kamboja, sebuah keluarga biasanya tinggal di bangunan berbentuk petak dengan ukuran bervariasi mulai dari 4 X 6 meter hingga 6 X 10 meter. Bangunan tersebut terbuat dari bambu. Rumah Khmer biasanya berpanggung dengan ketinggian tiga meter diatas permukaan tanah untuk melindungi isi rumah dari banjir. Tangganya terbuat dari kayu. Sebuah rumah biasanya terdiri dari tiga ruangan yang dibatasi oleh bambu. Ruangan depan dijadikan ruang tamu, ruangan kedua dijadikan kamar tidur orangtua, dan ruangan ketiga dijadikan kamar tidur bagi putrinya yang belum menikah. Anak laki-laki tidur dimanapun mereka mendapatkan tempat.
Anggota keluarga bersama tetangga bergotong-royong membangun rumah, serta diadakan suatu upacara bagi rumah yang baru selesai dibangun. Rumah bagi keluarga yang kurang mampu biasanya hanya terdiri dari satu ruangan besar. Dapur biasanya terletak di belakang rumah. Kamar mandi biasanya berada di sungai yang ditutupi oleh triplek. Kandang ternak biasanya dibuat dibawah rumah. Rumah orang Tionghoa dan Vietnam di kota maupun desa di Kamboja biasanya tidak berpanggung dan berlantai semen atau keramik. Rumah kaum urban dan bangunan komersial biasanya terbuat dari batu bata, beton, atau kayu.

Gambar. Rumah di Kamboja
2.  Kehidupan di Kamboja
a.    Ritual Kelahiran dan Kematian di Kamboja
Kelahiran bayi adalah saat yang membahagiakan bagi keluarga. Berdasarkan kepercayaan tradisional, mereka (ibu dan bayi) akan dikurung karena mereka sangat rentan terhadap dunia mistik. Seorang ibu yang meninggal saat melahirkan bayinya dipercaya akan menjadi roh yang jahat. Dalam masyarakat Khmer tradisional, wanita hamil dianggap tabu memakan beberapa makanan dan harus menghindari beberapa situasi. Tradisi ini masih berlangsung di pedesaan, namun mulai berkurang di daerah perkotaan. Kematian tidak dilihat dengan penuh kesedihan disini; tetapi dilihat sebagai akhir dari sebuah hidup dan merupakan awal dari kehidupan selanjutnya yang diharapkan akan lebih baik dari sebelumnya. Kaum Khmer Buddha biasanya mengkremasi dan debunya disimpan di dalam sebuah stupa di dalam candi. Bendera panji putih dikibarkan yang disebut “bendera buaya putih” di luar rumah, yang menandakan ada seseorang di dalam rumah tersebut yang telah meninggal. Prosesi pemakaman dihadiri oleh biksu Buddha, anggota keluarga, dan kerabat yang berduka. Suami/istri dan anaknya yang ditinggalkan berduka dengan cara mencukur kepalanya dan mengenakan pakaian putih.

b.   Masa Kecil dan Masa Remaja di Kamboja
Anak kecil di Kamboja dirawat sampai usia dua atau empat tahun. Sampai usia tiga atau empat tahun, anak diberi kasih sayang dan kebebasan. Permainan anak-anak lebih menekankan pada sosialisasi atau kemampuan ketimbang menang atau kalah. Kebanyakan anak mulai bersekolah pada usia tujuh atau delapan. Ketika dia mencapai usia ini, mereka harus mengetahui norma kesopanan, kepatuhan, dan hormat kepada yang lebih tua dan kepada biarawan Buddha (biksu). Ayahnya bertugas untuk mengontrol anaknya dan memberikan izin kepada anaknya. Saat usia sepuluh tahun, anak perempuan membantu ibunya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga; sedangkan anak laki-laki tahu bagaimana menjaga ternak mereka dan mampu berladang bersama laki-laki lain yang lebih tua. Para remaja biasanya bermain dengan temannya yang sesama jenis kelamin. Selama masa remajanya, laki-laki biasanya menjadi pelayan di Wihara dan menjadi calon biarawan, dimana hal itu merupakan suatu kehormatan besar untuk orangtuanya. Orangtua memiliki wewenang penuh terhadap anaknya sampai mereka menikah, dan orangtuanya tetap mengendalikan beberapa kontrol saat pernikahan.
3.  Pakaian di Kamboja
Pakaian di Kamboja adalah salah satu aspek penting dari budaya di Kamboja. Mode orang Kamboja berbeda-beda tergantung pada suku etnis dan status sosial.  Orang Khmer secara tradisional mengenakan syal kotak-kotak yang disebut Krama. “Krama” membedakan orang-orang Khmer (Kamboja) dengan tetangganya seperti orang Thai, orang Vietnam, dan orang Laos. Syal tersebut digunakan untuk beragam fungsi seperti gaya, melindungi dari matahari, dan sebagai pelindung (untuk kaki) saat mendaki pohon, membantu menggendong bayi, sebagai handuk, atau sebagai sarung. Krama dapat dengan mudah diubah menjadi boneka untuk dimainkan anak-anak. Kain tradisional yang dikenal sebagai Sampot, adalah sebuah kostum yang terkena pengaruh dari India pada era Funan. Pakaian Khmer telah berubah seiring dengan waktu dan agama. Pada masa transisi dari era Funan ke era Angkor, terdapat pengaruh Hindu yang kuat pada pakaian di Kamboja dimana orang-orang menyukai Sampot termasuk Sarong Kor (perhiasan) yang merupakan simbol agama Hindu. Ketika agama Buddha menggantikan agama Hindu, orang-orang Khmer mulai mengenakan blus, kemeja, dan celana. Tentunya sesuai gaya Khmer. Orang Khmer, termasuk rakyat dan keluarga kerajaan, berhenti memakai kerah bergaya Hindu dan mulai mengadopsi syal yang telah diberi dekorasi. Style ini populer pada periode Udong. Perempuan Khmer biasa memilih warna yang pas untuk Sampot-nya berdasarkan hati nurainya sendiri atau mengikuti trend yang ada. Beberapa orang Kamboja selalu memakai pakaian bergaya religius. Beberapa pria dan wanita Khmer mengenakan bandul Buddha pada kalungnya. Fungsinya adalah untuk menjaga dari roh jahat dan membawa keberuntungan. Keluarga kerajaan biasa mengenakan pakaian yang mahal. Sampot masih digunakan dikalangan kerajaan. Kebanyakan mereka memilih Sampot Phamuong, edisi baru dari sampot yang digunakan oleh orang Thai pada abad ke-17.
Sejak periode Udong, keluarga kerajaan mempertahankan kebiasaan mereka dalam berpakaian. Mereka yang perempuan membuat pakaian yang sangat atraktif. Para wanita selalu mengenakan penutup bahu tradisional yang disebut sbai atau rabai kanorng. Para penari mengenakan kerah yang disebut Sarong Kor di sekitar lehernya. Yang terpenting, mereka mengenakan gaun unik yang disebut Samprot sara-bhap yang terbuat dari kain sutra yang dijahit dengan menggunakan benang emas atau perak. Gaun tersebut mengkilap, dengan desain yang rumit, dan berkelip-kelip saat penari tersebut bergerak. Penari juga menggunakan sabuk yang diisi batu mulia. Banyak perhiasan yang digunakan oleh penari wanita. Seperti anting-anting, sepasang gelang, hiasan pada mata kaki.
Gambar. Sarung Hiasan (Sampot)
4.  Kuliner di Kamboja
Kuliner Khmer mirip dengan kuliner di negara-negara Asia Tenggara lainnya terutama kuliner Thailand, Vietnam, dan Kamboja yakni menggunakan saos ikan pada sup dan tumisan. Makanan yang terkenal pengaruh dari Tiongkok seperti chha (Bahasa Khmer: tumisan) dan beragam jenis nasi goreng. Makanan Tiongkok yang paling populer adalah “sup mie dengan nasi dan daging babi”, mirip dengan ph, disebut kuy tieu. Hidangan yang mendapat pengaruh dari India kebanyakan menggunakan bahan kari. Banh chaew, kuliner Vietnam Bánh xèo versi Khmer, juga merupakan hidangan yang populer.
Kuliner Khmer terkenal akan penggunakan pharok-nya. Pharok adalah sejenis pasta ikan yang telah dipermentasi. Jika Pharok tidak digunakan, maka kapi dapat digunakan. Kapi adalah sejenis pasta udang terfermentasi. Santan adalah bahan baku dari berbagai jenis kari dan hidangan pencuci mulut Khmer. Orang Kamboja biasanya menggunakan nasi dengan melati atau ketan. Hidangan penutup biasanya menggunakan buah seperti durian. Hampir semua makanan dimakan bersama semangkuk nasi. Cabai dipisahkan dari makanan supaya dapat diisi sesuai selera.

5.  Seni dan Sastra di Kamboja
5.1.   Seni Rupa di Kamboja
Sejarah seni rupa di Kamboja dapat dilihat dari jaman kuno. Seni di Kamboja mencapai puncaknya saat periode Angkor. Seni dan kerajinan tradisional Kamboja dapat berupa tekstil, tenunan, kerajinan perak, pahatan batu, keramik, lukisan, dan layang-layang. Pada pertengahan abad ke-20, seni modern muncul di Kamboja. Seniman mendapat dukungan dari pemerintah dan wisatawan.
5.2.  Musik di Kamboja
beberapa alat musik tradisional juga terlihat di dinding-dinding kuil pada masa Angkor, yang digambarkan pada relief-relief timbul. Beberapa alat musik tradisional memiliki kesamaan dengan alat musik Jawa, seperti “gamelan” Jawa. Beberapa ahli mengatakan bahwa Raja Khmer terdahulu, Jayavarman II membawa pengaruh budaya Jawa kuno ke Kamboja setelah kepulangannya dari pulau Jawa pada akhir tahun 700-an. 
Musik tradisional Khmer juga tidak luput dari kekejaman rezim Khmer Merah. Sekarang ini musisi tradisional Khmer di Kamboja sangat sedikit, karena banyak dari mereka yang telah dibunuh. Namun bagaimanapun juga, para ahli musik berkebangsaan asing bersama-sama dengan musisi Kamboja yang berhasil selamat dari Khmer Merah, telah mengeksplorasi dan mencoba untuk mengembangkan musik tradisional Khmer.
Zaman dahulu, Khmers memainkan musik mereka untuk mengiringi para penari saat pentas atau dalam acara sosial. Hentakan musik mereka tidak terlalu cepat dan tidak juga terlalu lambat. Para ahli mengatakan melodi mereka cukup sederhana dan tidak menggunakan sistem notasi. 
Terdapat empat musik tradisional Khmer yang biasa dimainkan, yaitu Pinpeat, Mohori, Phleng Kar (musik pernikahan Khmer) dan Phleng Arak (dipentaskan untuk menghormati leluhur mereka).
Dua diantaranya dijelaskan di bawah::
a.   Pinpeat
“Pi” mengacu pada alat musik dari buluh ganda dan “Peat” mengacu pada alat musik perkusi. Pinpeat biasanya dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional Khmer dan juga dalam acara keagamaan. Saat mengiringi penari Khmer, Pinpeat merupakan cara berinteraksi antara musisi, penari dan vokalis. 
Umumnya sebuah Pinpeat terdiri dari sekitar 9 instrumen, penyanyi dan paduan suara. Sekarang, karena terbatasnya ketersediaan musisi tradisional Khmer, Pinpeat terkadang ditampilkan hanya dengan kurang dari 8 instrumen. Instrumen yang lebih sering digunakan adalah 
Roneat , sebuah gambang, Kong Thom yang berarti sebuah gong bulat besar, Sampho yang merupakan drum berkepala ganda yang kecil, dan Skor Thom adalah drum yang besar.

b.    Mohori
Mohori dipentaskan di Istana Kerajaan, sama seperti Pinpeat, walaupun terkadang dimainkan juga di desa-desa. 
Walaupun instrumen musiknya cukup mirip dengan Pinpeat, instrumen utama Mohori terdiri dari dua jenis Roneat dan dua jenis Tro yang merupakan biola Khmer. 
5.3.   Tarian di Kamboja
       Tari di Kamboja dapat dibagi menjadi tiga kategori utama: tarian     klasik, tarian daerah, dan tarian tidak resmi.
a. Tarian klasik Khmer adalah bentuk tarian Kamboja yang hanya dipertunjukan untuk kerajaan. Tarian ini memiliki banyak elemen dari tarian klasik Thai. Pada pertengahan abad ke-20, tarian ini dipertunjukan kepada publik dimana ini menjadi simbol dari kebudayaan Khmer. Dan dipertunjukan saat ada kegiatan publik, liburan, dan untuk wisatawan yang berkunjung ke Kamboja.  Tarian klasik dikenal akan penggunaan tangan dan kaki untuk mengekspresikan emosinya dimana terdapat sekitar 4.000 gerakan berbeda pada tarian ini. Tarian ini dikenal menjadi The Royal Ballet of Cambodia (Tari Balet Kerajaan Kamboja) setelah ditetapkan menjadi warisan budaya UNESCO pada tahun 1960-an. Cerita Ramayana memberi pengaruh kuat terhadap tarian klasik Khmer dilihat dari gerakan dan alur cerita. Ratusan tahun lalu, Robam (tari) Apsara ditampilkan hanya untuk anggota Kerajaan Khmer, walaupun kemudian tarian ini juga ditampilkan kepada publik untuk perayaan-perayaan khusus di Kerajaan, seperti perayaan setelah menang dari perang. Akan tetapi sebuah serangan yang dilakukan Kerajaan Siam (sekarang Thailand) pada abad ke-15 berimbas ke Robam Apsara. Serangan tersebut memaksa Kerajaan Khmer untuk memindahkan ibu kota mereka ke Phnom Penh dan sejak itu tarian ini pun kembali hanya dipertunjukkan secara terbatas bagi kalangan istana. 
a)      Tari Apsara adalah tarian Khmer yang masih ada sejak era Angkor. Tarian ini menarik wisatawan dan membuat budaya Khmer dikenal dunia. Tarian Apsara dipromosikan oleh Norodom Buppha Devi dan menjadi salah satu simbol dari Kamboja.
b)      Buong Suong
Sejarawan mempercayai Buong Suong adalah tarian Khmer yang paling kuno. Tarian dibawakan satu kali di bawah perintah Kerajaan untuk meminta hujan pada dewa-dewa selama musim kering dan berkah untuk rakyat Kerajaan Khmer. informasi yang tersedia mengenai Buong Suong tidak selengkap Tari Apsara, yang bisa dipelajari dari banyak relief timbul pada kuil Angkor. Para ahli yakin sejak Khmer Merah menghabisi para aktor, penari, dan orang-orang yang berprofesi serupa, informasi lengkap mengenai Buong Suong menjadi sangat sedikit.
c)      Robam Trot (Tari “Troddi”)
Tarian rakyat tradisional Khmer ini biasanya ditampilkan selama perayaan-perayanTahun Baru Kamboja. Tarian ini diyakini oleh beberapa ahli kalau sebenarnya berasaldari bagian barat laut Kamboja, saat dimana masyarakat Khmer belum terpengaruholeh budaya India kuno.Robam Trot (Tari Troddi) memiliki arti membuang ketidakberuntungan di tahun lalu dan mengharapkan kehidupan yang lebih baik di Tahun Baru. Kadang tarian ini juga dibawakan untuk meminta hujan selama musim kemarau. Penari biasanya terdiri dari16 orang, baik pria dan wanita.
b.   Tarian daerah Khmer memiliki gerakan yang tidak seanggun tarian klasik Khmer. Penari mengenakan busana yang sesuai dengan yang dia perankan seperti Chams, kepala suku, petani, dan petani miskin. Tarian ini diiringi oleh musik yang dimainkan oleh orkestra mahori
c.   Tarian tidak resmi Kamboja (atau tarian sosial) ditarikan saat acara sosial. Macam-macam tariannya termasuk Romvong, Rom Kbach, Rom Saravan, dan Lam Leav. Beberapa dari tarian tersebut mendapat banyak pengaruh dari tarian tradisional Laos. Tari Rom Kbach mendapat banyak pengaruh dari tarian klasik kerajaan. Tarian lainnya yang mendapat pengaruh dari globalisasi adalah Cha-Cha, Bolero, dan Madison.
5.4.  Teater Bayangan (Wayang) di Kamboja
 Pewayangan di Kamboja biasa disebut Nang Sbek atau Lakhaon Nang Sbek. Nang Sbek mirip degan Nang Yai di Thailand, Wayang di Malaysia dan Indonesia khususnya yang berada di pulau Jawa dan Bali. Nang Sbek mungkin berasal dari Indonesia atau Malaysia sejak berabad-abad yang lalu. Seni ini mulai memudar seiring perkembangan hiburan modern. Sebelum ada film, video, dan televisi, warga Khmer sering menikmati pertunjukan wayang ini. Terdapat tiga macam teater bayangan di Kamboja:
1. Nang Sbek Thom adalah seni yang melibatkan mimik, musik sebagai pengiring     tarian, dan narasi.
2. Nang Sbek Toch yang juga disebut Nang Kalum dan sesekali disebut Ayang. Menggunakan wayang yang lebih kecil dengan ruang lingkup cerita yang lebih luas.
3. Sbek Paor menggunakan wayang yang berwarna.

5.5.     Film di Kamboja
 Sinema di Kamboja dimulai sejak tahun 1950-an. Raja Norodon Sihanok sendiri merupakan “pecandu” film. Banyak film yang ditayangkan di bioskop diseluruh negara pada tahun 1960-an. Setelah rezim Khmer Rouge berakhir, perkembangan industri film di Kamboja melemah karena persaingan dari video dan televisi.
5.6.   Sastra di Kamboja
Tulisan sastra pertama adalah dibuat pada masa Kerajaan Khmer. Biasanya tulisan tersebut berisi tentang keturunan kerajaan, aturan keagamaan, penaklukan wilayah, dan organisasi internal dalam kerajaan. Dokumen Khmer tertua adalah terjemahan dan ulasan teks Pali Buddhist pada Tripitaka. Dokumen tersebut ditulis oleh bhiksu pada daun palem dan tersimpan di biara. Reamker (Bahasa Khmer: Kemashuran Rama) adalah versi Kamboja dari Ramayana, sebuah epos India yang sangat terkenal. Reamker tersusun dalam bentuk puisi dan tahapan kisahnya diadaptasi dari gerakan tari yang ditarikan oleh seniman Khmer. Reamker sering diadaptasi ke dalam teater tradisional Kamboja. Kamboja kaya akan karya sastra lisan. Terdapat banyak legenda, kisah, dan lagu yang ada sejak jaman dulu dan tidak pernah ditulis sampai kedatangan bangsa Eropa.
Salah satu kisah yang terkenal adalah kisah tentang Vorvong dan Sorvong (Vorvong dan Saurivong), sebuah cerita tentang dua pangeran Khmer yang pertama kali dijadikan dalam bentuk tulisan oleh Auguste Pavie. Warga Perancis ini mengklaim bahwa dia mendapatkan cerita ini dari Paman Nip di Distrik Somrontong. Pada tahun 2006, cerita Vorvong dan Sorvong diadopsikan ke dalam bentuk tarian oleh Balet Kerajaan Kamboja. Tum Teav, yang bisa dibandingkan dengan cerita Romeo dan Juliet, adalah cerita yang paling terkenal, berdasarkan dari puisi yang pertama kali ditulis oleh biarawan Khmer bernama Sam. Kisah cinta tragis ini disetting pada era Lovek. Cerita ini diceritakan diseluruh Kamboja sejak pertengahan abad ke-19. Cerita ini telah diadopsi dalam banyak bentuk seperti lisan, sejarah, literatur, teater, dan bahkan film. Tum Teav juga berperan dalam pendidikan di Kamboja, contohnya adalah sebagai materi ujian bahasa Khmer di kelas 12. Terjemahan menjadi bahasa Perancis pertama kali dilakukan oleh Étienne Aymonier pada tahun 1880. Tum Teav populer di luar negeri ketika penulis George Chigas menerjemahkan versi sastranya yang ditulis pada tahun 1915 oleh biarawan Buddha terhormat Preah Botumthera Som atau Patumatthera Som, yang juga dikenal sebagai Som, salah satu penulis dalam bahasa Khmer yang terbaik. Beberapa anggota keluarga Kerajaan Khmer yang berbakat seperti Raja Ang Duong (1841-1860) dan Raja Thommaracha II (1629-1634) telah menghasilkan karya sastra yang bagus. Raja Thomaracha menulis puisi untuk orang Kamboja yang lebih muda. Raja Ang Duong dikenal dengan novelnya yang berjudul Kakey yang terinspirasi oleh cerita Jataka tentang seorang wanita yang tidak setia. Kini, Kakey biasanya digunakan sebagai media pendidikan untuk mengajarkan gadis Khmer tentang pentingnya kesetiaan.
6.  Olahraga di Kamboja
Olahraga berkembang pesat di Kamboja sejak 30 tahun terakhir. Sepakbola dibawa ke Kamboja oleh orang Perancis dan menjadi populer di Kamboja. Terdapat beberapa seni bela diri seperti bokator, pradal serey (tinju khas Khmer) dan gulat tradisional Khmer. Olahraga dari barat seperti voli, binaraga, hoki, golf, dan baseball juga populer di Kamboja. Lomba balapan termasuk lomba boat tradisional dan lomba balap kerbau. Phnom Pehn National Olympic Stadium adalah stadion nasional dengan kapasitas 50.000 orang di Phnom Penh. Kamboja pertama kali mengikuti olimpiade pada tahun 1956 dengan mengirimkan beberapa penunggang kuda. Kamboja juga pernah menjadi tuan rumah GANEFO pada tahun 1960-an. GANEFO adalah ajang olahraga internasional yang diciptakan Indonesia untuk memboikot Olimpiade. Di Kamboja diadakan Festival Bonn OmTeuk, yaitu festival balap perahu nasional yang diadakan setiap bulan November.


BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
           Bentuk pemerintahan negara Kamboja adalah kerajaan. Negara dipimpin oleh raja, sedangkan kepala pemerintahannya adalah perdana menteri. Kamboja memiliki lima pemerintahan lokal dengan ibu kota Phnom Penh. Kamboja merupakan wilayah protektorat Perancis sejak tahun 1863, dan pada tahun 1951 pemerintah Perancis mengangkat Sihanouk sebagai raja, yang menjadikan negara ini berbentuk kerajaan konstitusional dengan nama resmi Kerajaan Kamboja.
Nama resmi negara ini dalam bahasa Indonesia adalah Kerajaan Kamboja (Bahasa Inggris : Kingdom of Cambodia), merupakan hasil terjemahan dari bahasa Khmer Preăh Réachéanachâk Kâmpŭchéa. Sering disingkat menjadi Kampuchea (Bahasa Khmer: កម្ពុជា). Kata Kampuchea berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu Kambuja.  Perkembangan peradaban Kamboja terjadi pada abad 1 Masehi. Selama abad ke-3,4 dan 5 Masehi, negara Funan dan Chenla bersatu untuk membangun daerah Kamboja. Negara-negara ini mempunyai hubungan dekat dengan China dan India. Kekuasaan dua negara ini runtuh ketika Kerajaan Khmer dibangun dan berkuasa pada abad ke-9 sampai abad ke-13. Kerajaan Khmer masih bertahan hingga abad ke-15. Ibukota Kerajaan Khmer terletak di Angkor, sebuah daerah yang dibangun pada masa kejayaan Khmer.
          Kamboja memiliki luas 181.035 kilometer persegi. Letak astronomis Kamboja adalah 10°-15°LU, 102°-108°BT.
Letak geografis Kamboja di sebelah Barat Thailand, di sebelah Utara Laos, di sebelah Timur Vietnam, dan Teluk Thailand di sebelah selatan.
Kamboja memiliki garis pantai sepanjang 443 kilometer sepanjang Teluk Thailand. Kenampakan geografis yang menarik di Kamboja ialah adanya dataran lacustrine yang terbentuk akibat banjir di Tonle Sap. Gunung tertinggi di Kamboja adalah Gunung Phnom Aoral yang berketinggian sekitar 1.813.
Negara Kamboja memiliki beragam kebudayaan antara lain berupa bangunan rumah, seni dan sastra serta olahraga.

B.  Saran 
Makalah ini tidak membahas secara keseluruhan mengenai KEBUDAYAAN di NEGARA KAMBOJA, atau dengan kata lain makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu saya mengajak pembaca untuk mencari sumber lain yang sesuai dengan materi dalam makalah ini.






















Tidak ada komentar:

Posting Komentar